Monday, June 29, 2009

***7:140***

140. Musa menjawab: "Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.

---suplemen---
Masa Abu Bakr dapat dikatakan masa yang sungguh unik. Masa itu adalah masa transisi yang wajar dengan masa Rasulullah, baik dalam politik agama maupun dalam politik sekuler. Memang benar, ketika itu agama sudah sempurna, dan tak ada lagi orang dapat mengubah-ubah atau menukar-nukar apa yagn sudah ada dalam agama itu. Tetapi begitu Nabi wafat, orang-orang Arab pinggiran mulai berpikirpikir mau jadi murtad, atau memang suda banyak khabilah yang murtad. Maka tak ada jalan Abu Bakr harus bertindak menentukan langkah demi mengatasi keadaan yang sangat genting itu. Langkah itu sudah dimulai oleh Nabi sendiri ketika mengadakan hubungan dengan negera-negera tetangga dalam menjalankan politik dakwahnya itu. Jadi tak ada jalan lain buat Abu Bak daripada harus meneruskan langkah itu.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:56)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com140. Musa menjawab: "Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.

---suplemen---
Masa Abu Bakr dapat dikatakan masa yang sungguh unik. Masa itu adalah masa transisi yang wajar dengan masa Rasulullah, baik dalam politik agama maupun dalam politik sekuler. Memang benar, ketika itu agama sudah sempurna, dan tak ada lagi orang dapat mengubah-ubah atau menukar-nukar apa yagn sudah ada dalam agama itu. Tetapi begitu Nabi wafat, orang-orang Arab pinggiran mulai berpikirpikir mau jadi murtad, atau memang suda banyak khabilah yang murtad. Maka tak ada jalan Abu Bakr harus bertindak menentukan langkah demi mengatasi keadaan yang sangat genting itu. Langkah itu sudah dimulai oleh Nabi sendiri ketika mengadakan hubungan dengan negera-negera tetangga dalam menjalankan politik dakwahnya itu. Jadi tak ada jalan lain buat Abu Bak daripada harus meneruskan langkah itu.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:56)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Wednesday, June 24, 2009

***7:139***

139. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.

---suplemen---
Tidak ada yang menentang Abu Bakr sebagai khalifah

Lepas dari soal perbedaan pendapat dikalangan para ahli sejarah itu mengenai baiat serta ikut sertanya keluarga Hasyim dan pihak Muhajirin yang lain atau tidak ikut sertanya sebagian mereka, yang sudah disepakati tanpa perbedaan pendapat ialah, bahwa sepeninggal Rasulullah, sejak hari pertama yang harus memegang pimpinan adalah Abu Bakr.

Dari mereka yang tertunda memberikan baiat itu tidak ada yang mengatakan dari kalangan Banu Hasyim atau yang lain mencoba mendadakan perlawanan senjata atau berusaha menggugat-gugat khalifah yang pertama itu. Adakah itu karena kedudukan Abu Bakr di mata Rasulullah, yang sampai mengatakan: 'Kalau ada dari hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalil, maka Abu Bakr-lah khalil-ku.'

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:54)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com



Monday, June 8, 2009

***7:133***

133. Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah [558] sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

[558] Maksudnya: air minum mereka berubah menjadi darah.

---suplemen---

Adakah suatu kekuatan di dunia ini yang dapat melebihi kekuatan iman! Adakah suatu kemampuan seperti kemampuan iman dalam hidup ini! Orang yang mengira, bahwa kekuatan despotisma dan kekuasaan punya pengaruh besar di dunia ini, ia sudah terjerumus ke dalam jurang kesalahan.

Jiwa yang begitu damai, begitu yakin dengan keimanannya akan kebenaran, yang mengajak orang berdakwah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, dengan cara yang lemah lembut, yang bersumber dari akhak yang mulia dan perangai yang lembut, bergaul dengan orang-orang yang lemah, orang-orang papa dan kaum dhuafa, yang dalam penderitaannya sebagai salah satu sarana dakwahnya. Jiwa inilah yang sepantasnya mencapai sasaran sebagaimana dikehendaki, karena ia mudah diacu dan keluar sesuai dengan pola yang ada padanya.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:7)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Sunday, June 7, 2009

***7:132***

132. Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu".

---suplemen---
Keberanian Menerima Islam Dan Menyiarkannya

Usaha Abu Bakr melakukan dakwah Islam patut di kagumi. Barangkali ada juga orang yang berpandangan, sudah merasa cukup dengan mempercayai Islam secara diam-diam dan tidak berterang-terang di depan umum agar perdagangannya selamat, berjalan lancar. Tapi ABu Bakr dengan menyatakan terang-terangan keislamannya, lalu mengajak orang-orang kepada ajaran Allah dan Rasulullah dan meneruskan dakwahnya untuk menyakinkan kaum muslimin untuk mempercayai Muhammad dan mengikuti ajaran agamanya, inilah yang belum pernah dilakukan orang; kecuali mereka yang sudah begitu tinggi jiwanya, yang sudah sampai pada tingkat membela kebenaran demi kebenaran. Orang demikian ini sudah berada di atas kepentingan hidup pribadinya sehari-hari.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:7)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Thursday, June 4, 2009

***7:131***

131. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

---suplemen---
Abu Bakr adalah salah seorang pemikir Mekah yang memandang penyembahan berhala itu suatu kebodohan dan kepalsuan belaka. Ia sudah mengenal benar Muhammad - kejujurannya, kelurusan hatinya serta kejernihan pikirannya. Semua itu tidak memberi peluang dalam hatinya untuk merasa ragu, apa yang telah diceritakan kepadanya, dilihatnya dan didengarnya. Apalagi karena apa yang diceritakan Rasulullah kepadanya itu dilihatnya memang sudah sesuai dengan pikiran yang sehat. Pikirannya tidak merasa ragu lagi, ia sudah mempercayai dan menerima semua itu.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:6)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Wednesday, June 3, 2009

***7:130***

130. Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

---suplemen---
Beban yang dipikulnya setelah Rasulullah berpulang ke rahmatullah, adalah beban yang dipikulnya sendiri sebagai manusia pertama di kalangan kaum muslimin dan sebagai pengganti (khalifah)Rasulullah. Bukan lagi ia seorang pengikut yang ikut berbicara dalam musyawarah, melaikan sebagai seorang pemimpin yang diikuti sahabat-sahabatnya dengan memberikan pendapat kepadanya seperti halnya ia sendiri dulu bersama-sama sahabat-sahabat yang lain memberikan pendapat kepada Rasulullah.

Beban yang dipikulnya penuh iman, penuh amanah dan kejujuran. Allah telah memberikan balasan kepada kaum muslimin dengan sebaik-baiknya.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:xxxvi)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Tuesday, June 2, 2009

***7:129***

129. Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang [556]. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu [557].

[556] Mereka mengeluh kepada Musa a.s. bahwa nasib mereka sama saja; baik sebelum kedatangan Musa a.s. untuk menyeru mereka kepada agama Allah dan melepaskan mereka dari perbudakan Fir'aun, maupun sesudahnya. Ini menunjukkan kekerdilan jiwa dan kelemahan daya juang pada mereka.

[557] Maksudnya: Allah akan membalas perbuatanmu, yang baik dibalas dengan yang baik, dan yang buruk dibalas dengan yang buruk.

---suplemen---
Pada Dasarnya Islam Kedaulatan Sejagat

Abu Bakr dengan nalurinya sudah menyadari benar bahwa dasar Islam adalah kedaulatan sejagat. Seruannya tidak terbatas hanya pada golongan Arab, tetapi ajakan kebenaran ini ditujukan kepada seluruh umat manusia.

Sudah menjadi kewajiban setiap orang yang beriman kepada agama ini untuk berdakwah, menyampaikan ajarannya sebagai petunjuk-Nya dan rahmat. Dalam diri Rasulullah telah menyerukan dakwahnya kepada segala umat manusia yang terdiri dari berbagai warna kulit.

Biarkanlah mereka berjuang demi kebebasan berdakwah. Jangan memaksa siapapun dan jangan juga mau dirintangi dalam menyampaikan kebenaran yang sudah diperoleh itu. Hendaklah seluruh jagat ini menjadi arana dakwah kepada kebenaran, apa pun resiko yang akan menimpa diri mereka demi perjuangan di jalan Allah itu. Bila sampai mereka mati syahid, Allah jugalah yang akan memberi balasan.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:XXX)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Monday, June 1, 2009

***7:128***

128. Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

---suplemen---
Pembaca yang sama-sama mengharap ridho Allah, cuplikan-cuplikan buku Islam yang saya pilih untuk dibagi adalah sebuat biografi Abu Bakr As-Siddiq yang dikarang oleh sastrawan terkenal Muhammad Husain Haekal.

Selamat menikmati...

Nabi Memilih Abu Bakr dalam hijrah dan shalat.

Dipilih Abu Bakr menemaninya ketika hijrah dan mengimani shalat menggantikannya, karena Abu Bakr muslim pertama yang beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah, dan demi imannya itu pula dialah yang paling banyak berkorban. Sejak masuk Islam besar sekali hasratnya hendak membantu Nabi dalam berdakwah demi agama Allah dan membeli kaum Muslimin. Dia lebih mencintai Rasulullah daripada dirinya sendiri, mendampinginya selalu dalam setiap peristiwa. Di samping itu, di samping iman yang teguh, akhlaknya pun sudah mendekati kesempurnaan, cintanya begitu besar kepada orang lain, paling dekat dan akrab kepada meraka.

Jika demikian halnya, tidak heran bia Muslimin kemudian mengangkatnya sebagai pengganti Rasulullah. Memang, tidak heranlah dengan sikapnya itu ia membela Islam dan menyebarkan agama Allah di muka bumi ini. Dialah yang telah memulai sejarah lahirnya kedaulatan Islam, yang kemudian menyebar di timur dan di barat, ke India dan Tiongkok di Asia, ke Maroko dan Andalusia di Afrika dan Eropa, dan yang kemudian mengarahkan kebudayaan umat manusia ke suatu tujuaan, yang pengaruhnya di seluruh dunia masih terasa sampai sekarang.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:xvii-xviii)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com