Tuesday, May 26, 2009

***7:127***

127. Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka".

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 165: Tidak Menghadap Ke Arah Pintu Apabila Bertamu

Abdullah bin Busr ra. berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya ke arah pintu, melainkan ke arah sisi kanan atau kiri seraya mengucapkan assalamu'alaikum." (HR. Abu Daud)

Ini adalah suatu adab yang sangat tinggi dan santun dari pribadi seorang Rasulullah SAW ketika sedang bertamu.

Jangan sampai ketika pintu dibuka, tatapan mata kita langsung ke dalam rumah. Sehingga tamu pun melihat sesuatu yang tidak dikehendaki oleh tuan rumah.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:484-486)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Demikianlah usai sudah cuplikan-cuplikan dari buku "165 Kebiasaan Nabi", semoga kita dapat mengambil manfaatnya dan diberikan kekuatan untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah yang sudah banyak ditinggalkan umat.

"Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku dikala rusaknya umatku, maka ia cinta kepadaku. Barang siapa yang cinta kepadaku maka ia akan bersamamu di surga"

semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah dan RasulNya. aamiin...

Monday, May 25, 2009

***7:126***

126. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami". (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)".

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 164: Meninggalkan Sesuatu Di Tempat Duduknya Apabila Hendak Kembali Lagi

Abud Darda' ra berkata, "Adalah Rasulullah SAW, apabila beliau berdiri ketika sedang duduk bersama kami dan hendak kembali lagi; beliau mencopot kedua sandalnya atau bagian yang dikenakannya. Maka, para sahabat pun mengetahui hal itu sehingga mereka tetap ditempatnya." (HR. Abu Dawud)

Beberapa poin yang bisa kita jadikan catatan.

1. Nabi kurang suka memutuskan pembicaraan yang belum selesai, sehingga beliau merasa perlu kembali lagi ke tempat duduknya setelah menyelesaikan keperluannya.

2. Apabila beliau hendak kembali lagi ke majelis, beliau memberikan tanda kepada para sahabat bahwa beliau akan kembali lagi

3. Kedekatan para sahabat dengan Nabi, sehingga memahami kebiasaan beliau dan mengerti apa yang beliau inginkan dengan sesuatu yang ditinggalkan di tempat duduknya.

4. Penghormatan yang tinggi dari para sahabat kepada Rasulullah. Betapa mereka enggan meninggalkan majelis beliau manakala beliau masih ingin meneruskan.

5. Semangat sahabat yang menggebu dalam menuntut ilmu, sehingga mereka rela menunggu kedatangan nabi kembali.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:481-483)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Sunday, May 24, 2009

***7:125***

125. Ahli-ahli sihir itu menjawab: "Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 163: Berseri Wajahnya Jika Sedang Bergembira

Ka'ab bin Malik ra. berkata, "Adalah Rasulullah SAW, apabila beliau sedang bergembira, wajahnya tampak berseri, sehingga seakan-akan seperti kepingan bulan purnama. Dan kami mengetahui hal tersebut darinya." (HR. Sahih Bukhari & Muslim)

Kurang tepat jika kita mendapat suatu kebahagiaan namum kita bersikap tenang-tenang saja tanpa ekspresi. Sebab, ini bisa menunjukkan kurangnya rasa syukur kita. Bagaimanapun juga, sekecil apapun kegembiraan yang kita rasakan, ini adalah nikmat dari Allah Ta'ala. Sudah sepatunya jika kita menampakkan rasa gembira itu di wajah kita seraya mengucapkan alhamdulillah, tanpa diiringi dengan sikap yang berlebihan.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:478-480)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Tuesday, May 19, 2009

***7:123-124***

123. Fir'aun berkata: "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat
perbuatanmu ini);

124. demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik [555], kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya."

[555] Maksudnya: tangan kanan dan kaki kiri dan sebaliknya.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 162: Mengganti Nama Yang Jelek Dengan Nama yang Bagus

Dari Aisyah rha., ia berkata, "Bahwasanya Nabi SAW biasa mengganti nama yang jelek." (HR. At-Tirmidzi)

Hikmah yang bisa diambil adalah:
1. Mengganti nama yang telah diberikan orang tua bukanlah suatu hal yang tabu atau sikap yang dianggap tidak menghormatinya. Jika memang nama tersebut tidak bagus atau mempunyai arti yang tidak baik, mungkin dikarenakan ketidaktahuan orang tua atau sebab lain, maka tidak mengapa mengganti nama tersebut dengan nama yang lebih baik

2. Nama juga bisa bermakna sebagai doa atau harapan.

3. Tidak diperbolehkannya bagi kita untuk mengabaikan yang telah dikatakan atau ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Sebab, apa yang telah ditetapkan beliau bagi kita, maka itulah yang terbaik.

Imam Abu Daud berkata, "Nabi SAW pernah mengganti nama AL-Ash, Aziz, Atalah, Syaithan, Al Hakam, Ghurab, Hubab, dan Syihab menjadi Hisyam. Beliau juga pernah mengganti nama Harb menjadi Salam, Al-Mudhthaji' menjadi Al-Munba'its, Afirah menjadi Khadhirah, Suku Adh-Dhalalah menjadi Suku Al-Huda, Bani Az-Ziniyah menjadi Bani Ar-Risydah, dan Bani Mugwiyah menjadi Bani Risydah."

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:473-477)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Monday, May 18, 2009

***7:121-122***

121. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,
122. "(yaitu) Tuhan Musa dan Harun".

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 161: Menyuruh Sesuai Kemampuan

Aisyah rha. berkata, "Adalah Rasulullah SAW, apabila beliau menyuruh mereka, beliau menyuruh mereka agar melakukan amal-amal sesuai dengan kemampuan mereka." (HR. Al-Bukhari)

Yang dimaksud dengan amalan-amalan disini yaitu amal idabah yang sifatnya sunnah, mustahabbah atau mandub, bukan yang hukumnya wajib.

Jika amal tersebut sifatnya sunnah, apa pun bentuk amalannya, baik itu shalat sunnah, puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, berzikir, berinfak, bersedekah dan lain sebagainya, maka hendaknya dilakukan sebatas kemampuan saja. Sebab, bukan tidak mungkin jika melakukan amal ibadah diluar batas kemampuan, justru akan membawa mudharat, seperti sakit misalnya.

Selain itu Nabi khawatir jika dikemudian hari mereka tidak mampu terus memeliharanya. Sebab, Allah SWT menyukai amal ibadah yang dilakukan secara rutin dan terus menerus sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih,

"Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit."

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:468-469)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Sunday, May 17, 2009

***7:120***

120. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud [554].

[554] Mereka terus bersujud kepada Allah karena meyakini kebenaran seruan Nabi Musa a.s. dan bukan ia ahli sihir sebagai yang mereka duga semula.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 160: Menyuruh Istrinya Memakai Kain Jika Ingin Menggaulinya Dalam Keadaan Haidh

Menggauli istri dalam keadaan haidh, haram hukumnya. Karena dalam Al-Qur'an. Allah SWT melarang seseorang menggauli istrinya yang sedang haidh. Yang dilarang Allah dalam ayat tersebut adalah menyetubuhi istri dengan penetrasi. Adapun bagian tubuh yang lain, maka tetap saja bersih dan tidak membawa penyakit. Sehingga dia tetap dapat melakukan hubungan suami istri dengan syarat tidak penetrasi.

"Dari Maimunah binti Al-Harits rha,bahwasanya Rasulullah SAW apabila hendak menggauli salah satu istrinya sementara ia sedang haidh, beliau menyuruhnya agar memakai kain. Kemudian beliau pun menggaulinya'." (HR. Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, ABu Daud, An-Nasa'i dan Ad-Darimi)

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:465-467)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Thursday, May 14, 2009

***7:118-119*** 118. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. 119. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. ---suplemen--- Kebiasaan Nabi ke 159: Bemusyawarah Jika Membicarakan Sesuatu Masalah Yang Penting "Bahwasanya Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat pada hari perang badar. Maka Abu Bakar menyampaikan pendapatnya, tetapi beliau berpaling darinya. Lalu Umar berbicara, namun beliau juga berpaling. Kemudian kaum Anshar berkata, 'Wahai Rasulullah, sebenarnya kamilah yang engkau kehendaki'. Miqdad bin Al-Aswad berkata, 'Wahai Rasulullah, demi Allah, sekiranya engkau memerintahkan kami untuk terjun ke laut, pasti akan kami lakukan'." (HR. Ahmad dan Muslim) (HR. At-Tirmidzi) (Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:463-464) Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

***7:118-119***
118. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.

119. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 159: Bemusyawarah Jika Membicarakan Sesuatu Masalah Yang Penting

"Bahwasanya Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat pada hari perang badar. Maka Abu Bakar menyampaikan pendapatnya, tetapi beliau berpaling darinya. Lalu Umar berbicara, namun beliau juga berpaling. Kemudian kaum Anshar berkata, 'Wahai Rasulullah, sebenarnya kamilah yang engkau kehendaki'. Miqdad bin Al-Aswad berkata, 'Wahai Rasulullah, demi Allah, sekiranya engkau memerintahkan kami untuk terjun ke laut, pasti akan kami lakukan'." (HR. Ahmad dan Muslim)

(HR. At-Tirmidzi)

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:463-464)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Tuesday, May 12, 2009

***7:117***

117. Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 158: Buang Air Kecil Dengan Jongkok

Aisyah rha. berkata, "Barangsiapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Nabi SAW kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian percaya. Beliau tidak pernah kencing kecuali sambil duduk'." (HR. At-Tirmidzi)

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:462)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Monday, May 11, 2009

***7:115-116***

115. Ahli-ahli sihir berkata: "Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?"

116. Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena'jubkan).

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 157: Baru Mengangkat Pakaian Jika Telah Dekat Dengan Tanah Saat Buang Hajat

"Dari ibnu Umar ra, ia berkata, 'Bahwasanya Nabi SAW apabila hendak buang hajat, beliau tidak mengangkat pakaiannya hingga telah dekat dengan tanah'." (HR. Abu Dawud)

Ini adalah salah satu adab yang dicontohkan beliau dalam buang hajat. Beliau biasa mengangkat pakaiannya ketika telah berjongkok dan dekat dengan tanah. Hal ini untuk menghindari penglihatan orang dan tercipratnya najis.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:461)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Sunday, May 10, 2009

***7:113-114***

113. Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun mengatakan: "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?"

114. Fir'aun menjawab: "Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)".

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 156: Berdiri Apabila Melihat Iringan Jenazah

Rasulullah SAW bersabda,

"Apabila kalian melihat Jenazah, maka berdirilah hingga jenazah tersebut melalui kalian."

Jabir bin Abdillah ra menceritakan, bahwa suatu hari, ketika sedang duduk-duduk, lewat iringan jenazah di hadapa mereka. Maka Nabi pun berdiri menghormatinya dan para sahabat juga turut berdiri bersama beliau. Kemudian ada sahabat yang mengatakan kepada beliau, bahwa itu adalah jenazah seorang Yahudi. Lalu beliau bersabda, "Bukankan dia manusia juga?"

Para ulama mengatakan bahwa hakekatnya dari berdiri itu menganggungkan Allah Ta'ala yang mencabut jiwa si mayit tersebut.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:458-460)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Wednesday, May 6, 2009

***7:109-112***

109. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata: "Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai,

110. yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu".(Fir'aun berkata): "Maka apakah yang kamu anjurkan?"

111. Pemuka-pemuka itu menjawab: "Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan(ahli-ahli sihir),

112. supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai".

Tuesday, May 5, 2009

***7:108***

108. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu
menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 155: Tidak Bohong Dalam Bergurau

Abu Hanifah ra. meriwayatkan bahwasanya para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau suka mencandai kami. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya aku tidak berkata kecuali yang benar.'" (HR. Ahmad & At-Tirmidzi)

Nabi adalah seorang yang luwes dan tidak kaku dalam pergaulannya. Baliau sangat akrab bersama para sahabat dan tak jarang beliau mengajak mereka bergurau. Dan terkadang sababat yang mencandai beliau.

Dan sudah seharusnya kita menghindari bohong, sekalipun dalam bergurau.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:456-457)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Monday, May 4, 2009

***7:106-107***

***7:106-107***
106. Fir'aun menjawab: "Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar".

107. Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 154: Memilih Waktu Yang Tepat Dalam Menasehati

"Dari Abdullah bin Mas'ud ra., ia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah SAW memilih waktu yang tepat untuk menasehati kami dalam beberapa hari, dikarenakan takut membosankan kami.'" (HR. Sahih Bukhari & Muslim)

Nabi tidak terus menerus memberikan pelajaran dan wejangan kepada para sahabat setiap saat. Khawatir jika membuat mereka bosan dengan apa yang beliau sampaikan, sementara mereka tidak akan mungkin protes kepada beliau.

Jadi, seyogyanya seorang ustadz atau pembimbing agama, mesti pintar-pintar memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan ceramahnya kepada umat agar tidak membuat mereka bosan.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:454-455)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Sunday, May 3, 2009

***7:104***

104. Dan Musa berkata: "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam,

105. wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku".

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 153: Berubah Warna Mukanya Jika Tidak Menyukai Sesuatu

Abu Sa'id ra berkata, "Apabila Rasulullah SAW tidak menyukai sesuatu, kami mengetahuinya dari wajahnya." (HR. Muslim & Ibnu Majah)

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:453)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com