Sunday, July 5, 2009

***7:142***

 
142. Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah [564], dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang
membuat kerusakan".

[564] Maksudnya: perbaikilah dirimu dan kaummu serta hal ihwal mereka.

---suplemen---
Kawaan-kawasan lain yang jauh dari pusat kedudukan Islam, mereka banyak yang menerima Islam sebagai penghormatan saja atas kekuasaan Muhammad yang dalam waktu pendek tersebar luas hingga mencapai perbatasan imperium Romawi dan Persia. Penyebarannya yang begitu cepat memang sangat mengagumkan, sehinga setiap kabilah itu berturur-turut mengiriimkan utuasan ke Madinah menyatakan kepada Nabi bahwa mereka dan kabilah-kabilah lain yang tergabung ke dalamnya masuk Islam. Tetapi dengan tersebarnya berita bahwa Nabi wafat, tidak heran jika iman mereka jadi goyah dan mereka berbalik murtad dari agama yang baru saja mereka terima. Juga tidak heran jika mereka kemudian membangkang terhadap agama ini lalu terbawa oleh orang-orang yang mengobarkan fitnah dan api permusuhan atas nama fanarisma dan kecongkakan Arabnya.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:62)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Wednesday, July 1, 2009

***7:141***



141. Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu
dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat
jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup
wanita-wanitamu.  Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari
Tuhanmu".



---suplemen---

Wajar saja bila agama ini tidak tidak dapat mengakar ke dalam hati
kabilah-kabilah yang bermasalah seperti yang sudah dihayati oleh
penduduk Mekah dan Madinah serta masyarakat Arab yang berdekata di
sekitarnya. Di tempat asalnya Islam memerlukan wakru dua puluh tahun
penuh untuk menjadi stabil. Selama itu pula lawan-lawanya terus
berusaha mati-matian melancarkan permusuhan, yang berlangsung hingga
selama beberapa tahun. Akibat dari semua itu, kemudian permusyuhan
berakhir dengan kemenangan di tangan Islam. Ajaran-ajarannya sekarang
dapat dirasakan dan meresap di dalam hati orang-orang Arab Mekah,
Ta'if, Madinah serta tempat-tempat dan kabilah-kabilah berdekatan yang
dapat berhubungan dengan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Tetapi
mereka yang berada jauh dari daerah yang pernah menyaksikan kegiatan
Muhammad selama bertahun-tahun terus-menerus itu, mengajak orang kepada
ajaran Allah dan agama Allah, agama baru itu tidak membekas pada
mereka. Bahkan mereka memberontak dan berusaha hendak kembali kepada
kebebasan politik dan agama yang lama.



(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:60)

Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Monday, June 29, 2009

***7:140***

140. Musa menjawab: "Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.

---suplemen---
Masa Abu Bakr dapat dikatakan masa yang sungguh unik. Masa itu adalah masa transisi yang wajar dengan masa Rasulullah, baik dalam politik agama maupun dalam politik sekuler. Memang benar, ketika itu agama sudah sempurna, dan tak ada lagi orang dapat mengubah-ubah atau menukar-nukar apa yagn sudah ada dalam agama itu. Tetapi begitu Nabi wafat, orang-orang Arab pinggiran mulai berpikirpikir mau jadi murtad, atau memang suda banyak khabilah yang murtad. Maka tak ada jalan Abu Bakr harus bertindak menentukan langkah demi mengatasi keadaan yang sangat genting itu. Langkah itu sudah dimulai oleh Nabi sendiri ketika mengadakan hubungan dengan negera-negera tetangga dalam menjalankan politik dakwahnya itu. Jadi tak ada jalan lain buat Abu Bak daripada harus meneruskan langkah itu.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:56)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com140. Musa menjawab: "Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.

---suplemen---
Masa Abu Bakr dapat dikatakan masa yang sungguh unik. Masa itu adalah masa transisi yang wajar dengan masa Rasulullah, baik dalam politik agama maupun dalam politik sekuler. Memang benar, ketika itu agama sudah sempurna, dan tak ada lagi orang dapat mengubah-ubah atau menukar-nukar apa yagn sudah ada dalam agama itu. Tetapi begitu Nabi wafat, orang-orang Arab pinggiran mulai berpikirpikir mau jadi murtad, atau memang suda banyak khabilah yang murtad. Maka tak ada jalan Abu Bakr harus bertindak menentukan langkah demi mengatasi keadaan yang sangat genting itu. Langkah itu sudah dimulai oleh Nabi sendiri ketika mengadakan hubungan dengan negera-negera tetangga dalam menjalankan politik dakwahnya itu. Jadi tak ada jalan lain buat Abu Bak daripada harus meneruskan langkah itu.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:56)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Wednesday, June 24, 2009

***7:139***

139. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.

---suplemen---
Tidak ada yang menentang Abu Bakr sebagai khalifah

Lepas dari soal perbedaan pendapat dikalangan para ahli sejarah itu mengenai baiat serta ikut sertanya keluarga Hasyim dan pihak Muhajirin yang lain atau tidak ikut sertanya sebagian mereka, yang sudah disepakati tanpa perbedaan pendapat ialah, bahwa sepeninggal Rasulullah, sejak hari pertama yang harus memegang pimpinan adalah Abu Bakr.

Dari mereka yang tertunda memberikan baiat itu tidak ada yang mengatakan dari kalangan Banu Hasyim atau yang lain mencoba mendadakan perlawanan senjata atau berusaha menggugat-gugat khalifah yang pertama itu. Adakah itu karena kedudukan Abu Bakr di mata Rasulullah, yang sampai mengatakan: 'Kalau ada dari hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalil, maka Abu Bakr-lah khalil-ku.'

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:54)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com



Monday, June 8, 2009

***7:133***

133. Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah [558] sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

[558] Maksudnya: air minum mereka berubah menjadi darah.

---suplemen---

Adakah suatu kekuatan di dunia ini yang dapat melebihi kekuatan iman! Adakah suatu kemampuan seperti kemampuan iman dalam hidup ini! Orang yang mengira, bahwa kekuatan despotisma dan kekuasaan punya pengaruh besar di dunia ini, ia sudah terjerumus ke dalam jurang kesalahan.

Jiwa yang begitu damai, begitu yakin dengan keimanannya akan kebenaran, yang mengajak orang berdakwah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, dengan cara yang lemah lembut, yang bersumber dari akhak yang mulia dan perangai yang lembut, bergaul dengan orang-orang yang lemah, orang-orang papa dan kaum dhuafa, yang dalam penderitaannya sebagai salah satu sarana dakwahnya. Jiwa inilah yang sepantasnya mencapai sasaran sebagaimana dikehendaki, karena ia mudah diacu dan keluar sesuai dengan pola yang ada padanya.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:7)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Sunday, June 7, 2009

***7:132***

132. Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu".

---suplemen---
Keberanian Menerima Islam Dan Menyiarkannya

Usaha Abu Bakr melakukan dakwah Islam patut di kagumi. Barangkali ada juga orang yang berpandangan, sudah merasa cukup dengan mempercayai Islam secara diam-diam dan tidak berterang-terang di depan umum agar perdagangannya selamat, berjalan lancar. Tapi ABu Bakr dengan menyatakan terang-terangan keislamannya, lalu mengajak orang-orang kepada ajaran Allah dan Rasulullah dan meneruskan dakwahnya untuk menyakinkan kaum muslimin untuk mempercayai Muhammad dan mengikuti ajaran agamanya, inilah yang belum pernah dilakukan orang; kecuali mereka yang sudah begitu tinggi jiwanya, yang sudah sampai pada tingkat membela kebenaran demi kebenaran. Orang demikian ini sudah berada di atas kepentingan hidup pribadinya sehari-hari.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:7)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Thursday, June 4, 2009

***7:131***

131. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

---suplemen---
Abu Bakr adalah salah seorang pemikir Mekah yang memandang penyembahan berhala itu suatu kebodohan dan kepalsuan belaka. Ia sudah mengenal benar Muhammad - kejujurannya, kelurusan hatinya serta kejernihan pikirannya. Semua itu tidak memberi peluang dalam hatinya untuk merasa ragu, apa yang telah diceritakan kepadanya, dilihatnya dan didengarnya. Apalagi karena apa yang diceritakan Rasulullah kepadanya itu dilihatnya memang sudah sesuai dengan pikiran yang sehat. Pikirannya tidak merasa ragu lagi, ia sudah mempercayai dan menerima semua itu.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:6)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Wednesday, June 3, 2009

***7:130***

130. Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

---suplemen---
Beban yang dipikulnya setelah Rasulullah berpulang ke rahmatullah, adalah beban yang dipikulnya sendiri sebagai manusia pertama di kalangan kaum muslimin dan sebagai pengganti (khalifah)Rasulullah. Bukan lagi ia seorang pengikut yang ikut berbicara dalam musyawarah, melaikan sebagai seorang pemimpin yang diikuti sahabat-sahabatnya dengan memberikan pendapat kepadanya seperti halnya ia sendiri dulu bersama-sama sahabat-sahabat yang lain memberikan pendapat kepada Rasulullah.

Beban yang dipikulnya penuh iman, penuh amanah dan kejujuran. Allah telah memberikan balasan kepada kaum muslimin dengan sebaik-baiknya.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:xxxvi)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Tuesday, June 2, 2009

***7:129***

129. Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang [556]. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu [557].

[556] Mereka mengeluh kepada Musa a.s. bahwa nasib mereka sama saja; baik sebelum kedatangan Musa a.s. untuk menyeru mereka kepada agama Allah dan melepaskan mereka dari perbudakan Fir'aun, maupun sesudahnya. Ini menunjukkan kekerdilan jiwa dan kelemahan daya juang pada mereka.

[557] Maksudnya: Allah akan membalas perbuatanmu, yang baik dibalas dengan yang baik, dan yang buruk dibalas dengan yang buruk.

---suplemen---
Pada Dasarnya Islam Kedaulatan Sejagat

Abu Bakr dengan nalurinya sudah menyadari benar bahwa dasar Islam adalah kedaulatan sejagat. Seruannya tidak terbatas hanya pada golongan Arab, tetapi ajakan kebenaran ini ditujukan kepada seluruh umat manusia.

Sudah menjadi kewajiban setiap orang yang beriman kepada agama ini untuk berdakwah, menyampaikan ajarannya sebagai petunjuk-Nya dan rahmat. Dalam diri Rasulullah telah menyerukan dakwahnya kepada segala umat manusia yang terdiri dari berbagai warna kulit.

Biarkanlah mereka berjuang demi kebebasan berdakwah. Jangan memaksa siapapun dan jangan juga mau dirintangi dalam menyampaikan kebenaran yang sudah diperoleh itu. Hendaklah seluruh jagat ini menjadi arana dakwah kepada kebenaran, apa pun resiko yang akan menimpa diri mereka demi perjuangan di jalan Allah itu. Bila sampai mereka mati syahid, Allah jugalah yang akan memberi balasan.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:XXX)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Monday, June 1, 2009

***7:128***

128. Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

---suplemen---
Pembaca yang sama-sama mengharap ridho Allah, cuplikan-cuplikan buku Islam yang saya pilih untuk dibagi adalah sebuat biografi Abu Bakr As-Siddiq yang dikarang oleh sastrawan terkenal Muhammad Husain Haekal.

Selamat menikmati...

Nabi Memilih Abu Bakr dalam hijrah dan shalat.

Dipilih Abu Bakr menemaninya ketika hijrah dan mengimani shalat menggantikannya, karena Abu Bakr muslim pertama yang beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah, dan demi imannya itu pula dialah yang paling banyak berkorban. Sejak masuk Islam besar sekali hasratnya hendak membantu Nabi dalam berdakwah demi agama Allah dan membeli kaum Muslimin. Dia lebih mencintai Rasulullah daripada dirinya sendiri, mendampinginya selalu dalam setiap peristiwa. Di samping itu, di samping iman yang teguh, akhlaknya pun sudah mendekati kesempurnaan, cintanya begitu besar kepada orang lain, paling dekat dan akrab kepada meraka.

Jika demikian halnya, tidak heran bia Muslimin kemudian mengangkatnya sebagai pengganti Rasulullah. Memang, tidak heranlah dengan sikapnya itu ia membela Islam dan menyebarkan agama Allah di muka bumi ini. Dialah yang telah memulai sejarah lahirnya kedaulatan Islam, yang kemudian menyebar di timur dan di barat, ke India dan Tiongkok di Asia, ke Maroko dan Andalusia di Afrika dan Eropa, dan yang kemudian mengarahkan kebudayaan umat manusia ke suatu tujuaan, yang pengaruhnya di seluruh dunia masih terasa sampai sekarang.

(Diambil dari buku Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal:xvii-xviii)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Tuesday, May 26, 2009

***7:127***

127. Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka".

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 165: Tidak Menghadap Ke Arah Pintu Apabila Bertamu

Abdullah bin Busr ra. berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya ke arah pintu, melainkan ke arah sisi kanan atau kiri seraya mengucapkan assalamu'alaikum." (HR. Abu Daud)

Ini adalah suatu adab yang sangat tinggi dan santun dari pribadi seorang Rasulullah SAW ketika sedang bertamu.

Jangan sampai ketika pintu dibuka, tatapan mata kita langsung ke dalam rumah. Sehingga tamu pun melihat sesuatu yang tidak dikehendaki oleh tuan rumah.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:484-486)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Demikianlah usai sudah cuplikan-cuplikan dari buku "165 Kebiasaan Nabi", semoga kita dapat mengambil manfaatnya dan diberikan kekuatan untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah yang sudah banyak ditinggalkan umat.

"Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku dikala rusaknya umatku, maka ia cinta kepadaku. Barang siapa yang cinta kepadaku maka ia akan bersamamu di surga"

semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah dan RasulNya. aamiin...

Monday, May 25, 2009

***7:126***

126. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami". (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)".

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 164: Meninggalkan Sesuatu Di Tempat Duduknya Apabila Hendak Kembali Lagi

Abud Darda' ra berkata, "Adalah Rasulullah SAW, apabila beliau berdiri ketika sedang duduk bersama kami dan hendak kembali lagi; beliau mencopot kedua sandalnya atau bagian yang dikenakannya. Maka, para sahabat pun mengetahui hal itu sehingga mereka tetap ditempatnya." (HR. Abu Dawud)

Beberapa poin yang bisa kita jadikan catatan.

1. Nabi kurang suka memutuskan pembicaraan yang belum selesai, sehingga beliau merasa perlu kembali lagi ke tempat duduknya setelah menyelesaikan keperluannya.

2. Apabila beliau hendak kembali lagi ke majelis, beliau memberikan tanda kepada para sahabat bahwa beliau akan kembali lagi

3. Kedekatan para sahabat dengan Nabi, sehingga memahami kebiasaan beliau dan mengerti apa yang beliau inginkan dengan sesuatu yang ditinggalkan di tempat duduknya.

4. Penghormatan yang tinggi dari para sahabat kepada Rasulullah. Betapa mereka enggan meninggalkan majelis beliau manakala beliau masih ingin meneruskan.

5. Semangat sahabat yang menggebu dalam menuntut ilmu, sehingga mereka rela menunggu kedatangan nabi kembali.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:481-483)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Sunday, May 24, 2009

***7:125***

125. Ahli-ahli sihir itu menjawab: "Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 163: Berseri Wajahnya Jika Sedang Bergembira

Ka'ab bin Malik ra. berkata, "Adalah Rasulullah SAW, apabila beliau sedang bergembira, wajahnya tampak berseri, sehingga seakan-akan seperti kepingan bulan purnama. Dan kami mengetahui hal tersebut darinya." (HR. Sahih Bukhari & Muslim)

Kurang tepat jika kita mendapat suatu kebahagiaan namum kita bersikap tenang-tenang saja tanpa ekspresi. Sebab, ini bisa menunjukkan kurangnya rasa syukur kita. Bagaimanapun juga, sekecil apapun kegembiraan yang kita rasakan, ini adalah nikmat dari Allah Ta'ala. Sudah sepatunya jika kita menampakkan rasa gembira itu di wajah kita seraya mengucapkan alhamdulillah, tanpa diiringi dengan sikap yang berlebihan.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:478-480)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Tuesday, May 19, 2009

***7:123-124***

123. Fir'aun berkata: "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat
perbuatanmu ini);

124. demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik [555], kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya."

[555] Maksudnya: tangan kanan dan kaki kiri dan sebaliknya.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 162: Mengganti Nama Yang Jelek Dengan Nama yang Bagus

Dari Aisyah rha., ia berkata, "Bahwasanya Nabi SAW biasa mengganti nama yang jelek." (HR. At-Tirmidzi)

Hikmah yang bisa diambil adalah:
1. Mengganti nama yang telah diberikan orang tua bukanlah suatu hal yang tabu atau sikap yang dianggap tidak menghormatinya. Jika memang nama tersebut tidak bagus atau mempunyai arti yang tidak baik, mungkin dikarenakan ketidaktahuan orang tua atau sebab lain, maka tidak mengapa mengganti nama tersebut dengan nama yang lebih baik

2. Nama juga bisa bermakna sebagai doa atau harapan.

3. Tidak diperbolehkannya bagi kita untuk mengabaikan yang telah dikatakan atau ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Sebab, apa yang telah ditetapkan beliau bagi kita, maka itulah yang terbaik.

Imam Abu Daud berkata, "Nabi SAW pernah mengganti nama AL-Ash, Aziz, Atalah, Syaithan, Al Hakam, Ghurab, Hubab, dan Syihab menjadi Hisyam. Beliau juga pernah mengganti nama Harb menjadi Salam, Al-Mudhthaji' menjadi Al-Munba'its, Afirah menjadi Khadhirah, Suku Adh-Dhalalah menjadi Suku Al-Huda, Bani Az-Ziniyah menjadi Bani Ar-Risydah, dan Bani Mugwiyah menjadi Bani Risydah."

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:473-477)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Monday, May 18, 2009

***7:121-122***

121. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,
122. "(yaitu) Tuhan Musa dan Harun".

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 161: Menyuruh Sesuai Kemampuan

Aisyah rha. berkata, "Adalah Rasulullah SAW, apabila beliau menyuruh mereka, beliau menyuruh mereka agar melakukan amal-amal sesuai dengan kemampuan mereka." (HR. Al-Bukhari)

Yang dimaksud dengan amalan-amalan disini yaitu amal idabah yang sifatnya sunnah, mustahabbah atau mandub, bukan yang hukumnya wajib.

Jika amal tersebut sifatnya sunnah, apa pun bentuk amalannya, baik itu shalat sunnah, puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, berzikir, berinfak, bersedekah dan lain sebagainya, maka hendaknya dilakukan sebatas kemampuan saja. Sebab, bukan tidak mungkin jika melakukan amal ibadah diluar batas kemampuan, justru akan membawa mudharat, seperti sakit misalnya.

Selain itu Nabi khawatir jika dikemudian hari mereka tidak mampu terus memeliharanya. Sebab, Allah SWT menyukai amal ibadah yang dilakukan secara rutin dan terus menerus sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih,

"Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit."

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:468-469)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Sunday, May 17, 2009

***7:120***

120. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud [554].

[554] Mereka terus bersujud kepada Allah karena meyakini kebenaran seruan Nabi Musa a.s. dan bukan ia ahli sihir sebagai yang mereka duga semula.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 160: Menyuruh Istrinya Memakai Kain Jika Ingin Menggaulinya Dalam Keadaan Haidh

Menggauli istri dalam keadaan haidh, haram hukumnya. Karena dalam Al-Qur'an. Allah SWT melarang seseorang menggauli istrinya yang sedang haidh. Yang dilarang Allah dalam ayat tersebut adalah menyetubuhi istri dengan penetrasi. Adapun bagian tubuh yang lain, maka tetap saja bersih dan tidak membawa penyakit. Sehingga dia tetap dapat melakukan hubungan suami istri dengan syarat tidak penetrasi.

"Dari Maimunah binti Al-Harits rha,bahwasanya Rasulullah SAW apabila hendak menggauli salah satu istrinya sementara ia sedang haidh, beliau menyuruhnya agar memakai kain. Kemudian beliau pun menggaulinya'." (HR. Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, ABu Daud, An-Nasa'i dan Ad-Darimi)

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:465-467)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Thursday, May 14, 2009

***7:118-119*** 118. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. 119. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. ---suplemen--- Kebiasaan Nabi ke 159: Bemusyawarah Jika Membicarakan Sesuatu Masalah Yang Penting "Bahwasanya Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat pada hari perang badar. Maka Abu Bakar menyampaikan pendapatnya, tetapi beliau berpaling darinya. Lalu Umar berbicara, namun beliau juga berpaling. Kemudian kaum Anshar berkata, 'Wahai Rasulullah, sebenarnya kamilah yang engkau kehendaki'. Miqdad bin Al-Aswad berkata, 'Wahai Rasulullah, demi Allah, sekiranya engkau memerintahkan kami untuk terjun ke laut, pasti akan kami lakukan'." (HR. Ahmad dan Muslim) (HR. At-Tirmidzi) (Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:463-464) Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

***7:118-119***
118. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.

119. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 159: Bemusyawarah Jika Membicarakan Sesuatu Masalah Yang Penting

"Bahwasanya Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat pada hari perang badar. Maka Abu Bakar menyampaikan pendapatnya, tetapi beliau berpaling darinya. Lalu Umar berbicara, namun beliau juga berpaling. Kemudian kaum Anshar berkata, 'Wahai Rasulullah, sebenarnya kamilah yang engkau kehendaki'. Miqdad bin Al-Aswad berkata, 'Wahai Rasulullah, demi Allah, sekiranya engkau memerintahkan kami untuk terjun ke laut, pasti akan kami lakukan'." (HR. Ahmad dan Muslim)

(HR. At-Tirmidzi)

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:463-464)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Tuesday, May 12, 2009

***7:117***

117. Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 158: Buang Air Kecil Dengan Jongkok

Aisyah rha. berkata, "Barangsiapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Nabi SAW kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian percaya. Beliau tidak pernah kencing kecuali sambil duduk'." (HR. At-Tirmidzi)

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:462)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Monday, May 11, 2009

***7:115-116***

115. Ahli-ahli sihir berkata: "Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?"

116. Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena'jubkan).

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 157: Baru Mengangkat Pakaian Jika Telah Dekat Dengan Tanah Saat Buang Hajat

"Dari ibnu Umar ra, ia berkata, 'Bahwasanya Nabi SAW apabila hendak buang hajat, beliau tidak mengangkat pakaiannya hingga telah dekat dengan tanah'." (HR. Abu Dawud)

Ini adalah salah satu adab yang dicontohkan beliau dalam buang hajat. Beliau biasa mengangkat pakaiannya ketika telah berjongkok dan dekat dengan tanah. Hal ini untuk menghindari penglihatan orang dan tercipratnya najis.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:461)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com

Sunday, May 10, 2009

***7:113-114***

113. Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun mengatakan: "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?"

114. Fir'aun menjawab: "Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)".

---suplemen---
Kebiasaan Nabi ke 156: Berdiri Apabila Melihat Iringan Jenazah

Rasulullah SAW bersabda,

"Apabila kalian melihat Jenazah, maka berdirilah hingga jenazah tersebut melalui kalian."

Jabir bin Abdillah ra menceritakan, bahwa suatu hari, ketika sedang duduk-duduk, lewat iringan jenazah di hadapa mereka. Maka Nabi pun berdiri menghormatinya dan para sahabat juga turut berdiri bersama beliau. Kemudian ada sahabat yang mengatakan kepada beliau, bahwa itu adalah jenazah seorang Yahudi. Lalu beliau bersabda, "Bukankan dia manusia juga?"

Para ulama mengatakan bahwa hakekatnya dari berdiri itu menganggungkan Allah Ta'ala yang mencabut jiwa si mayit tersebut.

(Diambil dari buku 165 Kebiasaan Nabi, Abdul Zulfidar Akaha:458-460)
Arsip://pengajiankantor.blogspot.com